Lanjutan...
Padahal kipas anginnya sudah dihidupin,” jawabku sambil sesekali mataku melirik buah dada tante yang agak menyembul,
seakan ingin meloncat dari kaos yang menutupinya.
Mata Tante LENA terus menatapku hingga membuatku sedikit grogi,
meski sebenarnya birahiku sedang menanjak.
Tanpa kuduga, tangan tante memegang kancing bajuku.
“Kalau panas dilepas aja ya djoel, biar cepet adem,”
kata tante LENA sembari membuka satu-persatu kancing bajuku,
dan melepaskannya hingga aku telanjang dada..
Aku saat itu benar-benar kaget dengan apa yang dilakukan tante padaku.
Dan aku pun hanya bisa diam terbengong-bengong.
Aku tambah terheran-heran lagi dengan sikap tente LENA pagi itu yang memintaku
untuk membantu melepaskan kaos ketatnya.
“djoel, tolongin tante dong. Lepasin kaos tante. Habis panas sih..,”
pinta tante Ken dengan suara yang manja tapi terkesan menggairahkan.
Dengan sedikit gemetaran karena tak menyangka akan pengalaman nyataku ini,
aku lepas kaos ketat berwarna merah itu dari tubuh tante LENA.
Dan apa yang berikutnya aku lihat sungguh membuat darahku berdesir dan penisku semakin tegang membesar
serta jantung berdetak kencang. Payudara tante Ken yang besar tampak nyata di depan mataku,
tanpa terbungkus kutang. Dua gunung indah milik janda itu tampak kencang dan padat sekali.
“Kenapa djoel. Kok tiba-tiba diam?” tanya tante LENA padaku.
“E.. Em.. Nggak apa-apa kok tante,” jawabku spontan sambil menundukkan kepala.
“Ala.. enggak usah pura-pura. Aku tahu kok apa yang sedang kamu pikirkan selama ini.
Tante sering memperhatikan kamu.
djoel sebenarnya sudah lama pingin ini tante kan?”
kata tante sambil meraih kedua tanganku dan meletakkan
telapak tanganku di kedua buah dadanya yang montok.
“Ehm.. Tante.. Sa.. Ya.. Ee..,” aku seperti tak mampu menyelesaikan kata-kataku karena gugup.
Apalagi tubuh tante LENA semakin merapat ke tubuhku.
“djoel.. Remas susuku ini sayang. Ehm.. Lakukan sesukamu.
Nggak usah takut-takut sayang.
Aku sudah lama ingin menimati kehangatan dari seorang laki-laki,”
rajuk tante LENA sembari menuntun tanganku meremas payudara montoknya.
Sementara kegugupanku sudah mulai dapat dikuasai.
Aku semakin memberanikan diri untuk menikmati kesempatan langka yang selama ini hanya ada dalam angan-anganku saja.
Dengan nafsu yang membara, susu tante LENA aku remas-remas. Sementara bibirku dan bibirnya
saling berpagutan mesra penuh gairah.
Entah kapan celanaku dan celana tante lepas,
yang pasti saat itu tubuh kami berdua sudah polos tanpa selembar kainpun menempel di tubuh.
Permaianan kami semakin panas.
Setelah puas memagut bibir tante, mulutku seperti sudah nggak sabar untuk menikmati payudara montoknya
“Uuhh.. Aah..” Tante LENA mendesah-desah tatkala lidahku menjilat-jilat ujung puting susunya yang berbentuk dadu.
Aku permainkan puting susu yang munjung dan menggiurkan itu dengan bebasnya.
Sekali-kali putingnya aku gigit hingga membuat Tante Ken menggelinjang merasakan kenikmatan.
Sementara tangan kananku mulai menggerayangi ‘vagina’ yang sudah mulai basah.
Aku usap-usap bibir vagina tante dengan lembut hingga desahan-desahan menggairahkan semakin keras dari bibirnya.
“djoel.. Nik.. Maat.. Sekali sa.. Yaang.. Uuuhh.. Puasin tante sayang.. Tubuhku adalah milikmu,”
suara itu keluar dari bibir janda montok itu.
Aku menghiraukan ucapan tante karena sedang asyik menikmati tubuh moleknya.
Perlahan setelah puas bermain-main dengan payudaranya mulutku mulai kubawa ke bawah
menuju vagina tante LENA yang bersih terawat tanpa bulu.
Dengan leluasa lidahku mulai menyapu vagina yang sudah basah oleh cairan.
Aku sudah tidak sabar lagi. Batang penisku yang sudah sedari tadi tegak berdiri
ingin sekali merasakan jepitan vagina janda cantik nan montok itu.
Akhirnya, perlahan kumasukkan batang penisku ke celah-celah vagina.
Sementara tangan tante membantu menuntun tongkatku masuk ke jalannya.
Kutekan perlahan dan..
“Aaah..” suara itu keluar dari mulut tante Ken setelah penisku berhasil masuk ke dalam liang senggamanya.
Kupompa penisku dengan gerakan naik turun.
Desahan dan erangan yang menggairahkanpun meluncur dari mulut tante yang sudah semakin panas birahinya.
“Aach.. Ach.. Aah.. Terus sayang.. Lebih dalam.. Lagi.. Aah.. Nik.. Mat..,” tante Ken mulai menikmati permainan itu.
Aku terus mengayuh penisku sambil mulutku melumat habis kedua buah dadanya yang montok.
Mungkin sudah 20 menitan kami bergumul.
Aku merasa sudah hampir tidak tahan lagi.
Batang kemaluanku sudah nyaris menyemprotkan cairan sperma.
“Tante.. Punyaku sudah mau keluar..”
“Tahan seb.. Bentar sayang.. Aku jug.. A.. Mau sampai.. Aaach..” akhirnya tante LENA tidak tahan lagi.
Kamipun mengeluarkan cairan kenikmatan secara hampir bersamaan.
Banyak sekali air mani yang aku semprotkan ke dalam liang senggama tante,
hingga kemudian kami kecapekan dan berbaring di atas karpet biru.
“Terima kasih djoel. Tante puas dengan permainan ini. Kamu benar-benar jantan.
Kamu nggak nyeselkan tidur dengan tante?” tanya beliau padaku.
Aku tersenyum sambil mencium kening janda itu dengan penuh sayang.
“Aku sangat senang tante. Tidak kusangka tante memberikan kenikmatan ini padaku.
Karena sudah lama sekali aku berangan-angan bisa menikmati tubuh tante yang montok ini”
Tante LENA tersenyum senang mendengar jawabanku.
“djoel sayang. Mulai saat ini kamu boleh tidur dengan tante kapan saja,
karena tubuh tante sekarang adalah milikmu.
Tapi kamu juga janji lho. Kalau tante kepingin.. kamu temani tante ya.,” kata tante LENA kemudian.
Aku tersenyum dan mengangguk tanda setuju.
Dan kami pun mulai saling merangsang dan bercinta untuk yang kedua kalinya.
Hari itu adalah hari yang tidak pernah bisa aku lupakan.
Karena angan-anganku untuk bisa bercinta dengan tante LENA dapat terwujud menjadi kenyataan.
Sampai saat ini sampai kutuliskan cerita ini aku dan tante LENA masih selalu melakukan aktivitas sex dengan berbagai variasi.
Dan kami sangat bahagia.
(E N D)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar