Cerita Plus Plus

Cerita Seks dan 17 Plus Plus Cerita Panas Cerita Dewasa Cerita Ngentot Pengalaman ML Pengalaman Sex Pengalaman Seks Meniduri Pembantu

window.open('http://graizoah.com/afu.php?zoneid=3334601')

Kamis, 06 Februari 2014

Cerita Dewasa: Kuterpaksa Melayani Nafsu Mang Nurdin (Part.2)




Lanjutan...

“sslllcckk ckk muah muahh, udah lama mamang pengen liat dan nyiumin memek Non Feby, siapa sangka hari ini impian mang Nurdin menjadi kenyataan, muahhh.., cupp cupp muahhh…!!”

Tanganku berusaha mendorong kepalanya, kucakar wajahnya hingga pipinya luka tergores oleh kuku-ku. Mang Nurdin malah tertawa. Kedua kakiku melejang-lejang kuat berusaha untuk lepas dari cekalan tangannya. Aku semakin panik dan menjerit keras saat mulutnya terbuka lebar dan mencapluk belahan vaginaku.

“MANGGG…!! Auhhhhhhhhhhhh…….!!”

Tubuhku tersentak oleh rasa kaget sekaligus rasa nikmat saat ia mengunyah vaginaku, rasanya tubuhku seperti dipanggang oleh rasa nikmat yang selalu kucari-cari dalam khayalan liarku. Entah kenapa tenagaku seperti menguap habis, kedua kakiku berhenti bergerak, punggungku jatuh ke belakang, kepalaku berbaring pada lengan kursi dan tubuhku terbujur dengan kedua kaki dikangkangkan olehnya. .

“nnh nhhhh.!! Nnnnhhhh…, ohhh..?? !! manggg… “

Aku menatap kearah selangkanganku dengan malu kuhentikan rengekanku,rupanya sambil mengerogoti Vaginaku kedua mata mang Nurdin tak pernah lepas mengawasiku, ia semakin hebat menggerogoti vaginaku seakan sedang memaksaku untuk kembali merengek. Aku mencoba bertahan dan terus bertahan, ia menggeram dan memangut-mangut, mengecupi bukit mungil di selangkanganku dengan liar.

“ahhhhhhh… nnhh nhhhh..! nnnhhhh… awww…!!”

Berkali-kali mulut Mang Nurdin menghisap kuat-kuat vaginaku. Rasa nikmat membuatku terhanyut, tanpa kusadari aku kembali merengek dan mendesah kecil, kupalingkan wajahku ke arah lain. Aku tidak sanggup lagi beradu pandang dengan tatapan matanya yang mesum, bulu kudukku pun berdiri saat mang Nurdin melepaskan kaki kiriku, tangan kanannya kini berusaha menggapai gundukan payudaraku.

“ohhhhhh.. aaaaa, ennnhh.. nnnnhhh…!!”

Tubuhku menggelepar-gelepar disergap oleh rasa nikmat. Tangannnya mengusap-ngusap puncak payudaraku kemudian mencubit puting susuku yang runcing. Batang lidahnya membasuh jembut tipisku hingga vaginaku terasa hangat dan basah oleh air liurnya. Aku merintih saat mulutnya kembali menangkup belahan vaginaku, ia mengenyot beberapa kali lalu mengunyah belahan vaginaku. Aku semakin tersiksa oleh gairahku yang membara, aku merintih seperti seorang gadis binal yang liar.

“ahhhh..!! crrrutttt.. crutttt…”

“srruphhh.., nyemmm srrupphhh he he he…srrupphhhh”

Mang Nurdin menyeruput cairan vaginaku, di sela suara kekehannya aku dapat mendengar suara seruputan mulutnya. Kutarik nafasku dalam-dalam untuk mengatur detak jantungku yang tak beraturan, tubuhku menggelinjang.

“wah Non.., nantangin banget posisinya , wahh…”

“ohhhhh, Mangggggg….”

Mang Nurdin menangkap payudaraku kemudian ia meremas-remas induk payudaraku. Kupasrahkan tubuh mungilku untuk digerayangi oleh Mang Nurdin, tengah asik-asiknya ia mengelusi susu, pahaku dan meremas selangkanganku tiba-tiba kami berdua dikejutkan oleh suara seseorang yang membuka pintu pagar rumahku. Tanpa dikomando aku dan mang Nurdin memunguti pakaian kami yang berserakan di atas lantai kemudian berlari kearah anak tangga.

“manggg…,cepat keatas mangg…, sembunyi di kamarku..!! aduhh, itu manggg.. itu..bajunya ketinggal…”

Dengan cepat ia memungut baju kaosnya yang tertinggal. Aku dan mang Nurdin semakin panik menaiki anak tangga saat mendengar suara langkah-langkah kaki mendekati pintu rumah dan seseorang memutar kuncinya. Cklekk…, aku buru-buru menutupkan pintu kamarku, kami berdua berusaha menenangkan diri, kusuruh mang Nurdin untuk bersembunyi di dalam lemari pakaian. Setelah mengenakan kaos Tshirt dan celana blue jeansku kembali, kurapikan rambutku yang acak-acakan dan kemudian aku turun ke bawah.

“ehhh…, Ci Debbie….., koq pulangnya lebih cepat sih ?? biasanya kalau hari sabtu jam 3.30an cici baru pulang he he he he”

“iya nihhh…, sebel…, dosennya tadi ngak datang.., mana udah nungguin 1 jam lagi di kantin…, ehh iya , tadi ci ci beli es campur…,gimana ?? dingin ngak ??”

Ci Debbie menempelkan kantung plastik di jidatku. Aku tertawa kemudian mengekorinya ke dapur. Ekor mataku melirik ke arah kursi tempat di mana kemesuman itu baru saja terjadi, hahhh?? apa itu?? waduhh gawat.!! celana dalam Mang Nurdin masih tertinggal. Aku lewat, pura – pura untuk membereskan meja dan Tukkkk…, ujung kakiku menendang celana dalam dekil itu hingga nyungsep ke bawah meja.

“Febyyyy….”

“iya Cii…, I’m cuming he he he he”

“beli di mana sih cii…, enak…^_^”

“di jalan xxxx…,baru buka kemarin lusa, kata orang es campurnya lebih enak dari yang dijalan xxxx.., makanya cici nyobain beli empat bungkus.., ehh ternyata bener , enak.., gimana ??”

“iya ci lebih enak yang ini lagi, sruuuppphhh.. sruppphhhhh…”

“kamu koq keringatan gitu sih??”

“hemm ?? agak gerah cii…, cuaca hari ini kan panas menyengat…”

“loh, di luar hujan gerimis koq…”

“ahh, masaaaa ?? aku ngak tau cii, tadi aku baru bangun tidur… “

“ooo…gitu, srrrupphhh.. sruuppphhhh”

Entah kenapa suara sruputan yang terdengar membuatku semakin gelisah. Kukulum senyuman nakalku, kutepiskan segala pikiran kotor itu, dengan terburu-buru kuhabiskan semangkuk es campur yang tersaji diatas meja makan. Aku pura-pura menguap, untuk melepaskan beban nafsu yang tiba-tiba menggunung.

“Hoammmm…, Cii…, aku ngantuk.., “

“Hah? nggak salah?? bukannya baru bangun tidur.. ??”

“yaaa.., kan ujan ci, paling enak buat tidur he he he…”

“iya juga sihhh.. emmmmhhh.., cici juga jadi ngantuk nih…”

“sudah ciii.., sini sama Feby aja.., cicikan baru pulang , istirahat gih..”

“duhhh.., adikku memang paling baikk muahhhh…, cici bobo dulu yach”

Ci Debbie mencium pipiku kemudian ia masuk kekamarnya, setelah mencuci mangkuk. Aku sedikit membuka pintu kamar ci Debbie, ciciku tertidur pulas dibalik bed cover, dengan berjingjit-jingjit aku menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamarku.

Bang Nurdin

“lagi ngapain mang?“ aku agak tersinggung melihat mang Nurdin tengah mengacak-acak lemariku.

“ehhh.., ini Nonn, iniii… “

Aku tersenyum geli, celana dalamku membungkus batang penisnya.

“ini nonn, celananya…, maaf , mamang nggak tahan tadi, ini.. eummm” Mang Nurdin mengembalikan celana dalamku ke dalam lemari pakaian.

“nggak tahan?? apa yang nggak tahan mang??“ aku menggodanya, kukerlingkan ekor mataku untuk menggodanya..

“aduhhhh, Feby nakal amatttt…”

“pssstttt…., bicaranya jangan keras-keras mang, ada Ci Debbie..”

“Non Debbie lagi ngapain ?? “

“lagi bobo….”

“wah sayang sekali..”

Mang Nurdin mendesah kecewa.

“Emang napa mang ?? “

“tadinya sih mau mang Nurdin ajakin threesome he he he..”

Ia tersenyum saat aku memasang tinjuku didepan wajahnya. Kaus T-shirt dan celana jeansku kembali terlepas akibat kenakalan tangan mang Nurdin. Dengan mudah mang Nurdin mengambil posisi 69 , tapi anehnya posisi itu dilakukan sambil berdiri.

“aduh-duh manggg, jatuh nihh, jatuhhh…”

“nggak akannn, kan ada mamang yang pegangin…, pegangan ke pinggul Mang Nurdin.. aja kalau Feby takut jatuh… he he he he…”

Kulingkarkan tanganku membelit pinggang mang Nurdin, rasa takut membuat otakku buntu. Aku baru tersadar, wahh, dalam posisi 69 sambil berdiri, ini artinya vaginaku?? Ohhh.., akhhhh, perlahan dan mesra batang lidah mang Nurdin menjilat belahan vaginaku seperti tengah menjilat hidangan terlezat.

“wahhh, asekk.asekk.. nyumm sllcckkk sllcckkk.. emmmm, nyott”

“adu-duh mangggg…, udah mang, udah.. awww..”

“jangan berisik, nanti Non Debbie bangun he he he,, nyummm.. mummmh”

Aku menggigit bibir bawahku agar desahan dan rintihan itu tidak keluar dari mulutku. Dalam posisi ini vaginaku menjadi bulan-bulanan mulut Mang Nurdin, kakiku melejang-lejang di atas kepala mang Nurdin karena rasa nikmat. Aku mendesah pelan agar suaraku tidak terdengar keluar kamar, batang lidahnya mengorek-ngorek belahan vaginaku kemudian mengulas-ngulas kerutan duburku.

“manggg??” Aku kaget saat ujung lidahnya menekan kerutan anusku.

“Bukan cuma memek yang lezat , bool Non juga nikmat rasanya he he he..”

“ahhhh.. hmmmpphhh…crrrr crrrrrrrrr”

Dengan telapak tangan kututup mulutku saat vaginaku berdenyutan, pahaku menjepit kuat-kuat kepala mang Nurdin. Rasa nikmat mengguyur tubuhku seiring dengan butiran peluhku yang semakin banyak membanjir, kedua tangan ku terkulai terjuntai dengan lemas. Mulut Mang Nurdin menjilati belahan vaginaku dan menyeruputi cairan vaginaku. Aku tambah kelojotan saat mulutnya mengemut bibir vaginaku, berkali-kali aku dibuatnya menggelepar menikmati puncak klimaks hingga tubuhku serasa lemas.

“Blukkk…” tubuhku dijatuhkan oleh mang Nurdin keatas ranjang, aku bergulingan menjauhinya, cukup sudah kenikmatan ini kurasakan. Kupeluk gulingku kuat-kuat saat Mang Nurdin naik dan merangkak menghampiriku dengan kasar ia merengut guling yang sedang kupeluk. Aku hanya terdiam saat mulutnya mengejar payudaraku sebelah kiri, aku meringis tertahan, hisapan-hisapannya kini cenderung kasar, mulutnya mencapluk puncak susuku dan mengenyot-ngenyot dengan liar, tangannya menangkup vaginaku dan meremas-remas gundukan mungil selangkanganku..

“hsssshhh. Hssshhhhh…” aku mendesis, aku sudah puas, amat puas malah, namun tampaknya mang Nurdin masih belum puas menikmati tubuhku

Kubiarkan ia menggeluti tubuhku yang sudah basah mandi keringat, keringat mang Nurdin bercampur dengan keringatku saat ia menaiki tubuhku dengan posisi wajahnya terbenam di antara belahan payudarakuku. Kurapatkan kedua kakiku rapat-rapat untuk mencegah hal-hal buruk yang kutakutkan. Aku takut oleh batangnya tapi aku juga semakin ingin menghisap benda hitam yang besar dan panjang itu, aku malu untuk mengatakannya, mana mungkin aku meminta langsung kepadanya, lumayan lama mang Nurdin menyusu sambil meremas-remas vaginaku.


“kayanya Feby pengen ngisep titit mamang ya…”

“ah ?? enggak koq mang…” aku berusaha menyembunyikan hasrat di dadaku, entah bagaimana caranya ia menangkap hasratku yang semakin menggebu-gebu.

“enggak mangg, ngak usah , e-ehhh…”

Selangkangan Mang Nurdin naik ke wajahku, benda besar itu tergantung dengan indah di hadapan wajahku.

“nggak usah bohonggg, mang Nurdin tahu koq, apa yang diinginkan oleh Febyy.., nih mamang kasih titit, tapi inget.., harus ditelen pejunya ya ??”

“ha-ufffhhh , hmmm.. mmmm”

Aku membuka mulutku saat mang Nurdin menjejalkan batang besar di selangkangannya. Aku meronta saat mang Nurdin menekankan batang hitamnya sedalam mungkin ke dalam mulutku, mataku membeliak dan pandangan mataku agak nanar. Ujung penis mang Nurdin tertanam masuk ke kerongkonganku, aku mencubit-cubit bokong mang Nurdin agar ia mencabut batang kemaluannya, semakin keras cubitanku semakin dalam pula mang Nurdin menanamkan benda besar itu ke dalam mulutku, sayup-sayup aku mendengarnya berkata.

“nahhh…, ini yang namanya deepthroat , Feby harus sering belajar supaya biasa..”

Aku tidak dapat bernafas dengan sebatang penis yang menancap dikerongkonganku.

“Ahaakkk…., uhukkk… uhukkk“ aku menggeleng-gelengkan kepala sambil terbatuk, kedua tanganku menggenggam batang penis mang Nurdin. Sesekali aku masih terbatuk dan berdehem kecil, kuremas batang miliknya sambil menghisap-hisap ujung benda itu yang bentuknya mirip kepala rudal, kuhisap kuat hingga benda itu memuncratkan cairan sperma didalam mulutku. Aku hendak memuntahkan cairan bau itu namun mang Nurdin melintangkan jari telunjuknya di depan bibirku, disertai sebuah ancaman.

“telan…, atau nanti dideepthroat lagi sama mamang..”

BERSAMBUNG...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar